Selasa, 07 Februari 2012

PAIKEM


Pengertian PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.
Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.
Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian.
1. Pengertian PAIKEM
Paiken merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Selanjutnya PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: Pendekatan mengjar (Approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Selain itu PAIKEM juga memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan ketrampilan sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru.
2. Peralihan yang mendasari PAIKEM
PAIKEM dikembangkan berdasarkan beberapa peralihan yaitu:
§  Peralihan dari belajar perorangan ( individual learning) ke belajar  bersama (cooperative learning)
§  Peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar memahami (learning of understanding)
§  Peralihan dari teori pemindahan pengetahuan (knowledge transmitted) ke bentuk interaktif, ketrampilan proses, dan pemecahan masalah.
§  Peralihan paradigma dari guru mengajar ke siswa belajar
§  Beralihnya bentuk evaluasi tradisional ke bentuk authentic assesment seperti portofolio, proyek, laporan siswa, atau penampilan siswa
Dasar peralihan tersebut diatas seusai dengan PP no 19 Tahun 2005 tentang Standart Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat (1) yang berbunyi:
“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan dielenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai bakat, minat,dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”
3. Karakteristik PAIKEM
§  Berpusat pada siswa ( guru sebagai fasilitator, bukan penceramah)
§  Belajar menyenangkan (joy full learning)
§  Belajar  yang berorientasi pada tercapainta kemampuan tertentu ( competency-based learning)
§  Belajar secara tuntas (mastery learning)
§  Belajar secara berkesinambungan (continous learning)
§  Belajar sesuai dengan ke-kini-an dan ke-disini-an (contextual learning)
4. Arti Penting PAIKEM
§  PAIKEM lebih memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajran. selama ini lebih banyak pendekatan konvensional (hanya guru yang aktif / monologis), sementara para siswa pasif sehingga pelajaran menjemukan dan tidak menyenangkan.
§  PAIKEM lebih memungkinkan guru dan siswa berbuat kreatif bersama. Guru mengupayakan segala cara secara kreatif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peserta didik juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman.
PAIKEM dilandasi oleh falsafah konstruktivisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan gagasan / pengetahuan awal yg telah dimilikinya.  Selain itu PAIKEM juga dilandasi dengan falsafah Pragmatisme yang beorientasi pada tercapainya tujuan secara mudah dan langsung, sehingga dalam pembelajaran peserta didik selalu menjadi subjek aktif sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing.
5 Hal-Hal Penting yang Harus Diperhatikan Dalam Implementasi Pendekatan PAIKEM
§  Memahami sifat yang dimiliki siswa
§  Memahami perkembangan kecerdasan siswa
§  Mengenal siswa secara perorangan
§  Memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar
§  Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
§  Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
§  Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
§  Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegaitan belajar
§  Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental
6. Penjabaran PAIKEM
1.      Pembelajaran aktif
Secara harafiah aktif artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. Pembelajran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara fisik, mental, moral, dan spiritual.  Guru harus menciptakan seuasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun penetahuannya sendiri. dengan demikian siswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.Menurut Taslimuharrom (2008) Prose pembelajaran dikatakan aktif apabila mengandung:
§  Keterletakatan pada tugas (Commitment)
§  Tanggung Jawab (Responsibility)
§  Motivasi (Motivation)
Alhasil guru aktif:
§  Membrikan umpan balik
§  mengajukan pertanyaan yang menentang
§  mendiskusikan gagasan siswa
Dan siswa aktif:
§  bertanya / meminta penjelasan
§  mengemukakan gagasan
§  mendiskusikan gagasan orang lain dan gagasannya sendiri

2. Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan apabila dilakukan dengan cara yang meng-integrasikan media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam prose pembelajaran, sehingga terjadi proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri pada siswa. Penggunaan bahan pelajaran, software multimedia, dan microsoft Powerpoint merupakan slah satu alternatif.
Alhasil guru Inovatif:
§  menggunakan bahan / materi baru yang bermanfaat dan bermartabat
§  menerapkan pelbagai pendekatan pembelajaran dengan gaya baru
§  memodifikasi pendekatan pembelajaran konvensional menjadi pendekatanan yang sesuai dg keadaan siswa, sekolah dan lingkungan
siswa inovatif:
§  mengikuti pembelajran inovatif dengan aturan yang berlaku
§  berupaya memcari bahan/materi sendiri dari sumber yang relevan
§  menggunakan perangkat teknologi maju dalam proses belajar
Penggunaan TIK dalam proses pembelajaran
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah memberikan penaruh perhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajran. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan metode telepon, komputer, internet, e-mail dsb. Hubungan / interaksi guru dan siswa tidak hanya melalui tatp muka tetapi dilakukan dengan menggunakan media-media tsb.
Guru dapat memberikan layanan tanpa berhadapan langsung dengan siswa. Yang paling mutakhir adalah “cyber Teaching” atau pengajaran maya, yaiu proses pembelajran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin populer saat ini adalah e-learning yaitu suatu metode pemebelajran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Penggunaan komputer dalam pendidikan dapat menggabungkan unsur inovasi, kreativitas dan hiburan, menjadikan peserta didik memiliki rasa senang, tidak jenuh dan menerima pelajaran  dengan lebih mudah.
3. Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran yang kreatif mengandung makna tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum, dengan demikian ada kreativitas pengembangan kompetensi dan kreativitas dalam melaksanakan pembelajran di kelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber bahan dan sarana untuk belajarPembelajaran kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptkan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkatan kemampuan.
Alhasil guru bertindak kreatif dalam arti:
§  mengembangkan kegiatan pembelajaran yang beragam
§  membuat alat bantu belajar yang berguna meskipun sederhana
siswa kreatif:
§  Merancang / membuat sesuatu
§  menuis / mengarang
§   
5. Pembelajaran Efekti
Pembelajaran dikatkn efektif apabila pembelajran itu dapat mencapai sasran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui keefektifan belajar maka diakhir kegiaan selalu dilakukan evaluasiEvaluasi yang dimaksud tidak sekedar tes tetapi bisa juga semacam refleksi / perenungan yang dilakukan oleh guru dan siswa .
Guru menjadi pengajar yang efektif:
§  mengajar / mengarahkan dengn memberi contoh
§  menghargai siswa dan memotivasi siswa
§  memahami tujuan pembelajran
§  mengajar ketrampilan memecahkan masalah
§  menggunakan metode yang berfariasi
§  mengembangkan pengetahuan pribadi dengan banyak membaca
§  mengajarkan cara mempelajari sesuatu
§  melaksnakana penilaian yang tepat dan benar
Siswa menjadi pembelajar yang efektif :
§  Menguasai pengetahuan dan ketrampilan atau kompetensi yang diperlukan
§  Mendapat penglaman baru yang berharga

6. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull learning) adalah pembelajran yang dapat dinimati siswa. siswa merasa nyaman, aman, dan asyik. Perasaan yang mengasyikkan mengndung unsur inner motivation yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.
Ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan:
§  adanya lingkungan yang rileks, menyenangkan, tidak membuat tegang (stress), aman, menarik, dan membuat siswa tidak ragu melakukan sesuatu walaupun keliru untuk mencapai keberhasilan yang tinggi
§  terjamin ketersediaan materi pembelajaran dan metode yang relevan
§  terlibatnya semua indera dan aktivitas otak kiri dan otak kanan
§  adanya situasi belajar yang menantang (challenging) bagi pesert didik dan utnuk berpikir jauh kedepan dan mengeksplorasi materi yang sedang dipelajari
§  Adanya situasi belajar emosional yang positif ketika para sisiwa belajar bersama, dan ketika ada humor, dorongan, semangat, waktu istirahat, dan dujkungan enthusiast.
Guru menyenangkan, guru tidak membuat siswa:
§  takut salah dan takut dihukum
§  takut ditertawakan teman-teman
§  takut dianggap sepele  oleh guru dan teman
siswa belajar senang:
§  Siswa berani bertanya
§  berani mencoba / berbuat
§  berani mengemukakan pendapat / gagasan
§  berani mempertanyakan gagasan orang lain.
Baiklah rekan-rekan guru marilah kita ciptakan PAIKEM di kelas-kelas kita….Selamat mencoba
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengembangan visi dan misi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) salah satu metode pembelajaran berbasis lingkungan. Metode ini mampu melibatkan siswa secara langsung dengan berbagai pengenalan terhadap lingkungan. Dengan demikian selama dalam proses pembelajaran akan mengajak siswa lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar: dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Umaedi (1999) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Directorate Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah, Directorate Pendidikan Menengah Umum. Indonesia, Jakarta.
1)      Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.

2)      Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.

3)      Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

4)      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5)      Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6)      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7)      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

8)      Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEMenyenangkan.’

a.       Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama PEMBELAJARAN. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru.
1.      Berhubungan dengan apakah teori Piaget itu?. Mengapa teori Piaget itu sangat berpengaruh pada perkembangan intelektual anak?
Piaget paling terkenal karena menyusun kembali teori is perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap, memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat tahap perkembangan yang lebih kurang sama dengan (1) masa infancy, (2) pra-sekolah, (3) anak-anak, dan (4) remaja. Masing-masing tahap ini dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh filsuf Immanuel Kant). Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang terakhir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Jadi, perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang lingkungan nya; akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh struktur pemikiran.
Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam teori Piaget sebagai
Tahap sensorimotor: dari lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)
Tahap pra-operasional: dari 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik)
Tahap operasional konkret: dari 7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret)
Tahap operasional formal: setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak)

2.      Coba buat perbandingan pandangan behaviristik dan konstruktivistik tentang bagaimana mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
MENAFSIR KONSEP BEHAVIORISTIK DAN KONSTRUKTIVISTIK
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, begitu definisi pendidikan yang terkandung dalam ketentuan umum di Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
Untuk mencapai tujuan berdirinya Negara Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, instrument yang digunakan adalah pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan manusia-manusia cerdas, kemudian akan menjadi agen perubahan untuk kehidupan berbangsa yang lebih baik. Paolo Freire seorang tokoh pendidikan menyatakan ada dua pandangan dunia yang mempersepsikan manusia dalam dunia pendidikan. Pandangan pertama melihat manusia sebagai objek, yang dapat dibentuk dan disesuaikan. Pandangan lainnya melihat manusia sebagai subyek, mahluk yang bebas dan mampu melampaui dunianya.
Proses belajar pada dunia pendidikan dianggap sebagai transfer of knowledge, beranggapan bahwa peserta didik adalah botol kosong yang dapat diisi sesuai dengan kehendak guru. Guru dan murid terlihat seperti relasi antara penguasa dan yang dikuasai. Paradigma ini lebih dipengaruhi oleh teori behaviorisme. Behaviorisme memandang pengetahuan sebagai suatu yang eksternal dan proses belajar sebagai kegiatan internalisasi pengetahuan. Hasil dari proses belajar menurut teori ini adalah perubahan tingkah laku, layaknya mesin yang dimasukkan program kemudian program itu berjalan sebagaimana program yang telah dibuat tersebut.
Ada beberapa tokoh pendukung teori behaviorisme, diantarnya B. F. Skinner, dilahirkan di Susquehanna, Pennsylvania tahun 1904. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam buku tersbut dia mengatakan bahwa ditemukannya banyak tingkah laku pada organisme. Dalam perkembangan psikologi belajar, Skinner menguatkan teori operant conditioning. Operant Conditioning atau Instrumental Conditioning awalnya dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike. Thorndike ini berpendapat bahwa semua proses belajar adalah penjelasan dari koneksi atau perangsang dari adanya stimulus dan respon.
Skinner membedakan dua macam respon. Pertama, Respondent Response (Reflexive Response) yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu (eliciting stimuli), pada umumnya perangsang tersebut bersifat mendahului respon yang ditimbulkan, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Operant Response (Instrumental Response) adalah respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu (reinforcing stimuli atau reinforcer), karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme.
Kaum Behavioris juga beranggapan bahwa seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement (penguatan atau bantuan) yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Mereka beranggapan bahwa semua manusia adalah robot mesin yang menolak kebebasan dan sifat spontanitas serta tidak memiliki insiatif. Namun teorinya mendapat banyak tentangan dari berbagai kalangan karena dalam teorinya mengesampingkan segi biologi dalam perilaku.

Sebagai anti tesis dari behaviorime, lahir konstruktivisme yang beranggapan bahwa peserta belajar adalah organisme aktif serta dengan usahanya dapat menciptakan makna tersendiri sebagai hasil dari proses belajar. Paham ini melihat peserta didik adalah subyek (pelaku) dalam proses belajar, dilandasi oleh teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pebelajar menciptakan pengetahuan saat berusaha memahami pengalaman-pengalamannya. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial) sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Kaum Konstruktivisme beranggapan bahwa pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Relasi yang terbangun adalah guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Teori ini bersandarkan pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mencermati secara kritis, sekaligus melakukan re-interpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar-mengajar. Meskipun kita tahu bahwa belajar adalah suatu penafsiran personal dan unik dalam sebuah konteks sosial, tetapi akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru.
Jika output dari pendidikan Indonesia adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup yang dihadapi, bukan hanya mesin atau robot yang mudah digerakkan kesana kemari, maka teori konstruktivisme patut dijadikan landasan dalam dunia pendidikan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar